Beberapa bulan yang lalu, saya baru saja membaca sebuah buku -kumpulan cerpen tepatnya- yang menurut saya menarik. Kumpulan Cerita karya Akutagawa Ryunosuke. Dengan Rashomon sebagai ujung tombaknya.
Akutagawa Ryunosuke lahir di Irifunechoo-Kyobashi, Tokyo, 1 Maret 1892. Dianggap sebagai cerpenis terbaik Jepang dan mendapat predikat sebagai pencerah dan mewakili kaum neo-realis.
Karyanya ada banyak, antara lain “Rashomon”, “Benang Laba-Laba” atau “Kumo no Ito”, “Di Dalam Belukar” atau “Yabu no Naka”, “Hidung” atau “Hana”, “Si Putih” atau “Shiro”, dan lain-lain. Saya sendiri menyukai cerpen “Di Dalam Belukar” dan “Si Putih”. Novelet “Kappa” juga cukup menarik.
Gaya tulisannya berbeda apabila dibandingkan dengan penulis-penulis beraliran naturalis yang sedang naik daun di Jepang pada masa itu, dengan ekspos kehidupan asmara atau kehidupan mereka sendiri secara vulgar. Akutagawa menganggap itu dangkal. Menurut saya juga begitu.
Isi karya Akutagawa kebanyakan tentang masalah emosi dan psikologi manusia, yang diibaratkan dengan tokoh-tokoh yang kebanyakan “bukan manusia”, seperti dewa,setan, hewan, dan sebagainya. Karyanya berkutat pada hal yang menyangkut keanehan, kekasaran, keburukan, dan berbau kegilaan. Kata-katanya jitu dan gaya bahasanya tinggi. Kualitas intelektualnya tinggi. Saya sangat berharap saya bisa membaca cerita asli dalam Bahasa Jepangnya. Andai saya bisa berbahasa Jepang.
Suatu hal yang membuat saya tertarik pada Akutagawa Ryunosuke adalah sisi kejiwaannya. Bukan perasaan suka. Tapi, ini yang menarik untuk saya. Yang saya baca adalah demikian, “Dari kecil, Akutagawa memiliki masalah psikologis berupa ketakutan akan menjadi gila seperti ibunya.” Sejujurnya saya agak bingung dengan maksudnya, apakah ibunya juga memiliki masalah psikologis berupa ketakutan akan menjadi gila atau ibunya gila. Yah, kembali ke topik. Dia paranoid dan tumbuh dewasa dengan memendam masalah batin tersebut sehingga menjadi sangat sensitif dan pendiam. Oke, saya tahu rasa itu.
Akutagawa mulai menunjukkan gejala penderita schizophrenia pada akhir 1926. Akutagawa mengalami halusinasi atau delusi. Ini mengingatkan saya pada tokoh utama pada novelet Kappa. Ia mulai mempercayai bahwa tindakan-tindakannya dikuasai oleh suatu kekuatan lain di luar dirinya. Ia mengalami semacam deja-vu dan menderita sakit kepala yang luar biasa. Hal-hal itu mengguncang jiwanya karena dia sadar sepenuhnya bahwa dia sedang menjadi gila.
Dan puncaknya, pada umur 35 tahun, Akutagawa yang kelelahan mental dan fisik melakukan bunuh diri di rumahnya di Tokyo dengan menenggak obat tidur secara berlebihan.
Teman lama Akutagawa, Novelis Kikuchi Kan, kemudian mendirikan lembaga yang memberikan Penghargaan yang dikenal dengan Akutagawa Prize pada tahun 1935 untuk mengenang Akutagawa. Penghargaan tersebut merupakan penghargaan kesustraan paling bergengsi bagi para penulis baru di Jepang.
Fakta-fakta mengenai Akutagawa Ryunosuke dalam post ini saya ambil dari bagian “Tentang Akutagawa Ryunosuke” di buku “Rashomon, Kumpulan Cerita Akutagawa Ryunosuke” Read more »