Eh Rambutnya Mana?
Ada di rumah.
Beneran, di rumah.
Yang saya bawa kira-kira segini aja, sisanya ada di rumah.
Beberapa orang bertanya kenapa saya memotong rambut saya. Sebenarnya saya ingin menjawab, supaya jadi pendek. Tapi, karena itu terkesan tidak menjawab pertanyaan, saya bilang saja karena iseng. Saya ingin mencoba hal baru. Selain itu, rambut pendek sepertinya akan sangat menghemat waktu untuk keramas dan mengeringkan rambut. Lebih efisien gitu.
Orangtua saya berkali-kali bertanya pada saya apakah saya yakin dengan keputusan untuk memotong rambut saya yang panjang itu. Saya sih iya-iya aja, bahkan cenderung antusias. Mereka hanya bisa bilang, karena saya sudah dewasa, keputusan itu di tangan saya. Maka jadilah demikian. Walau nyokap mengaku saat melihat rambut saya dipotong seleher, dia merasa hatinya menciut. Semoga itu cuma kiasan ya, ma. Sedangkan bokap langsung tertawa saat melihat saya muncul di kamarnya. Bisa dimaklumi. Mbak-mbak di salon juga sempat tertawa saat saya bilang saya mau potong rambut jadi pendek. Mereka kira saya bercanda. Tapi respons teman-teman saya positif. Nyokap pun merasa rambut saya cocok juga dengan saya. Adik saya yang pertama bahkan jadi ingin potong rambut juga, model yang lebih cowok. Tapi tidak ada yang setuju karena pipinya tembem. Kami takut dia akan jadi mirip acorn.
Hm. Ga gini juga sih.
Adik bungsu saya yang bersama bokap dari awal sudah menentang saya potong rambut, masih merasa saya lebih cocok berambut panjang. Biarkan. Nanti dia terbiasa sendiri.
Sebelum memutuskan untuk potong rambut, saya sempat takut menyesal. Takut hasilnya tidak bagus, takut tidak cocok dengan bentuk muka, banyak kekhawatirannya. Tapi setelah saya jalani dengan kepercayaan diri entah darimana, yang membuat saya ketawa2 saja saat yang lain teriak-teriak waktu gunting itu membabat rambut saya, saya merasa baik-baik saja. Bahkan sangat baik. Termasuk saat akhirnya rambut panjang itu terkulai di tangan si pemotong rambut dan rekannya berkata ‘Inna lillahi wa inna illayhi roji’un’ pada rambut saya. Menurut saya sih itu kurang sesuai, karena rambut yang masih ada di kepala saya masih membuat saya merasa hidup.
Awalnya setelah keluar dari salon, rambut saya cukup rapi. Setelah pulang dan dicuci di rumah, rambut saya yang kanan jadi agak melengkung ke kanan. Yang kiri? Juga melengkung ke kanan. Seolah ada efek angin. Anehnya, bentuk ini berubah normal saat saya bangun tidur. Jadi ketika orang lain bangun dengan rambut yang terdistorsi, saya bangun dengan kondisi rambut ideal. Intinya saya ga perlu sisiran sering2. Keren.
Ada yang mau potong rambut juga?
