I wrote what I wrote

Resolusi

Barusan ketika saya sedang mencuci muka, tiba-tiba saya menyadari sesuatu.

“Ya ampun, ternyata saya sudah memasuki usia yang menuntut kedewasaan psikologis.”

Bukan, bukan karena melihat kerutan-kerutan seperti di iklan-iklan itu.

Telat? Ah, sudahlah. Saat saya memasuki usia 17, saya sudah berpikiran seperti itu. Tapi kesan yang saya dapatkan hanya, “Oh, ya, begitu”. Ya gimana sih persepsi dewasanya remaja yang baru beralih?

Semua ini berawal beberapa jam sebelumnya. Saya merasakan sakit gusi di belakang gigi geraham kanan saya yang paling belakang saat saya menggerakan rahang bawah saya ke kiri. Beberapa detik awal saya sempat mengira saya panas dalam. Tapi kemudian ada perasaan familiar dengan rasa sakit itu. Agak bengkak. Saya meraba adanya sesuatu di bawah lapisan gusi itu, seperti.. Gigi.

Gigi geraham saya yang paling mentok, atau gigi geraham bungsu kalau kata orang-orang, sudah tumbuh 3: di kiri bawah, kanan bawah, dan kiri atas. Gigi saya sekarang jumlahnya 31. Tinggal satu lagi, yang sekarang sedang mendorong di kanan atas. Rasanya seperti sedang hamil. Bedanya ini di gusi dan tidak melibatkan pemilihan nama. Tapi kalo boleh kasih nama, saya mau kasih dia nama John.

Gigi yang akan lahir ini adalah gigi ke-32 saya. Rasanya seperti akan lengkap sebagai manusia. Rasanya keren gitu, bisa sesuai dengan apa yang ditulis di buku biologi, karena setahu saya, tidak semua orang bisa memiliki gigi yang tumbuh lengkap. Beberapa orang bahkan harus dicabut giginya karena tumbuhnya abnormal dan mengganggu kesejahteraan gigi-gigi lainnya. Gigi saya, walaupun tidak terlalu rapi, seperti saya, tapi tumbuh dengan cukup normal.

Beberapa jam lalu pula, saya pulang dari Mal Ciputra, atau yang biasa ditulis di angkot-angkot dengan Citralen, membawa sebuah buku yang baru saya beli. Buku itu tidak lain tidak bukan adalah Manusia Setengah Salmon-nya Raditya Dika. Di salah satu chapternya, ada cerita tentang Radith mulai tumbuh gigi gerahamnya. Katanya, itu tanda seseorang mulai menjadi orang dewasa.

Ya, pendapat orang mengenai kedewasaan itu berbeda-beda. Menurut Erik Erickson, dewasa muda itu mulai dari 18 tahun – 35 tahun. Menurut tokoh lain, tentunya beda lagi. Kebetulan saya ingetnya tahap perkembangan versi itu. Tapi tentunya moment tiap orang berbeda-beda. Ga pas plek ulang tahun ke-18 terus langsung dewasa juga toh.

Lalu, entah terjadi proses apa di dalam otak saya, terpikir sebuah resolusi:

(Ini akan terdengar galau, persiapkan diri Anda.)

Sudah waktunya saya jatuh cinta lagi, pada manusia, laki-laki. Bukan hanya pada Siberian Husky, Samoyed, Corgi, brokoli, warna, musik, oreo blueberry ice cream, pizza veggie lovers, cerita dan tulisan-tulisan, serta hal-hal semacamnya. Kali ini, orang.

Damn.

“Entah apapun yang membuat saya berkeinginan seperti itu, dia harus tanggung jawab.”

Awalnya saya pikir ini salah post-post di 9gag, buku Raditya Dika, atau adik saya yang lagi laku-lakunya. Bisa juga karena galau yang pending setelah hujan tadi sore. Eh, terus saya sadar. Saya yang membuat diri saya berpikir dan berkeinginan seperti itu. Saya yang punya persepsi, saya yang punya asumsi. Saya deh yang harus bertanggung jawab.

Ah.

Ya jadi, saya sudah terlalu lama beranggapan bahwa saya sudah move on dari kisah yang lalu-lalu, tapi sebenarnya kurang total move on-nya. Seperti orang yang jatuh ke kubangan lumpur, sudah bangun dan jalan lagi seolah tidak terjadi apa-apa, tapi terus kotor dan luka. Orang ini belum mandi dan mengobati lukanya, dan terseok-seok berjalan menuju entah.

Intinya orang ini sebenarnya harus pulang ke rumah, mandi, berbenah lagi untuk sampai ke tujuan. Memang harus pulang lagi sih, tapi siapa tahu jalanan sudah lebih kering. Setelah itu, berangkat lagi, dengan lebih banyak bekal: pengalaman. Ini namanya belajar.

Nulis sih emang gampang ya.

Untuk sampai ke tujuan yang membuat saya bergidik sendiri itu, akan ada banyak hal yang harus saya lakukan, banyak hal yang harus saya benahi. Lalu sebaiknya mungkin resolusi itu tidak akan saya ungkit lagi sebelum terwujud. Rasa ini sudah dan masih asing bagi saya. Rasanya aneh. Harus pelan-pelan membiasakan diri untuk lebih terbuka. Ga akan gampang, tapi ini namanya belajar. Semoga ini tidak membebani diri saya sendiri, tapi membuka diri untuk kesempatan yang lain.

Ah, sudah. Sudah panjang tulisan saya, dan ini sudah mau subuh.

Doakan saya berhasil.

: )

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.